Rabu, 20 Feb 2008,
BI Sulit Tekan Inflasi
BI Rate Tak Bisa Kurang 8 Persen
JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mengaku kesulitan menekan tingkat inflasi pada posisi target 5 plus minus 1 persen. Deputi Gubernur Senior BI Miranda Swaray Goeltom mengatakan bank sentral memang harus menerima begitu saja target yang ditetapkan pemerintah. Namun pada kenyataannya, angka tersebut sulit dicapai.
“BI harus menjadi orang yang menerima saja. Kenyataan menunjukkan angka itu sulit dicapai. Coba terangkan bagaimana bisa tercapai kalau Januari saja sudah 1,77 persen, berarti the rest of eleven month harus bisa 4 persen,” kata Miranda dalam diskusi yang digelar CSIS di Jakarta kemarin (19/2).
Miranda mengatakan, target 5 plus minus 1 persen hanya bisa dicapai jika dilakukan pengetatan ekonomi melalui suku bunga. Miranda mengakui, BI rate memang sebaiknya tidak diturunkan dari posisi 8 persen.
“Ini memang pilihan yang harus dilakukan. Membiarkan begitu saja (inflasi tinggi) sehingga nanti menjelaskan, atau mati-matian mencapai target,” katanya.
Dia mengatakan pencapaian target inflasi memerlukan trade off yang tidak kecil. Selain kebijakan suku bunga, menjaga agar inflasi tidak tinggi juga berarti mengorbankan target pertumbuhan. “Ini trade off antara inflasi dan growth (pertumbuhan ekonomi). Pasti ada dampak terhadap growth, dan dampak lagi ke employment (tenaga kerja),” sebut Miranda.
Menurut dia, BI sendiri lebih memandang pertumbuhan ekonomi 2008 hanya akan berada di kisaran bawah target pemerintah, yakni 6,2 persen. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi di kisaran 6,2-6,8 persen, atau dengan angka revisi definitif 6,4 persen.
Dia menambahkan, negara-negara di Asia memang akan mudah terkena inflasi tinggi. Terutama yang faktor volatile food-nya cukup besar seperti Indonesia. Miranda mengatakan, dampak perlambatan ekonomi Amerika Serikat (AS) juga masih akan berlanjut dan mengancam Indonesia. “Kalau sekarang, dilakukan simulasi ke apapun, hanya mendekati 6,2 persen. Susah sekali mencapai 6,5 persen,” katanya.
Ekonom UI Chatib Basri mengatakan jika nilai tukar rupiah bisa dikelola serius, bisa cukup besar dampak positifnya terhadap inflasi. “Persoalannya, kenapa rupiah kita bisa terdepresiasi hingga Rp 9.500 per USD,” kata Chatib. (sof/fan)
(http://jawapos.com)
Filed under: News






