Apresiasi Rupiah Redam Laju Inflasi

Senin, 03 Mar 2008,

JAKARTA – Tingginya harga minyak dunia hingga melampaui USD 100 per barel berpotensi mengerek laju inflasi (imported inflation). Namun hal ini bisa diredam jika nilai tukar rupiah dibiarkan tetap menguat (apresiasi) terhadap dolar AS.

Pengamat pasar uang Farial Anwar mengatakan, saat ini Indonesia membutuhkan kurs rupiah sekuat mungkin terhadap dolar AS (USD). “Melihat fluktuasi harga minyak itu, idealnya bank sentral membiarkan apresiasi rupiah,” kata Farial di Jakarta kemarin (2/3).

Menurut Farial, potensi penguatan nilai tukar rupiah terhadap ni USD dalam beberapa waktu mendatang sangat besar. Ini karena situasi ekonomi dalam negeri AS yang belum stabil akibat krisis kredit perumahan kelas dua (subprime mortgage).

“Untuk pekan lalu, nilai tukar rupiah sudah tidak anomali lagi dan mengikuti penguatan nilai tukar mata uang dunia. Contohnya mata uang euro terhadap dolar AS,” jelasnya.

Managing director Currency Asset Management itu juga mengatakan selama ini Bank Indonesia menjaga nilai tukar rupiah di level Rp 9.000 hingga Rp 9.500 per dolar AS. “Jadi biasanya rupiah sulit untuk menembus batas psikologis di bawah Rp 9.000 per dolar AS. Kalau rupiah menembus itu, BI langsung membeli dolar untuk menjaga di level yang telah diinginkan,” katanya.

Langkah ini, menurut Farial, dilakukan untuk mengurangi permainan spekulan valuta asing. “Namun, untuk kondisi beberapa waktu mendatang nilai tukar rupiah harus dibuat sekuat mungkin untuk meredam imported inflation akibat kenaikan harga minyak,” lanjutnya.

Untuk diketahui, ada tiga penyebab kenaikan harga-harga barang dan jasa. Yaitu cost push inflation, demand pull inflation, serta imported inflation.

Posisi nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan akhir pekan (29/2) lalu di level Rp 9.056 per dolar AS. Dibandingkan posisi pembukaan awal pekan, level tersebut lebih kuat.

Sementara itu, Menko Perekonomian Boediono mengakui bahwa apreasiasi nilai tukar rupiah turut berkontribusi untuk meredam gejolak inflasi. Dia menambahkan kenaikan harga BBM industri yang dilakukan Pertamina awal Maret ini akan berpengaruh terhadap laju inflasi Indonesia.(iw/fan)