Matakuliah Etika Bisnis kami berkesempatan untuk diajar (atau dihajar ya
) oleh Ibu Satya. Tahukah teman-teman semua, beliau adalah dosen yang kaya akan ide. Gaya mengajar beliau tidak monoton. Terlebih ketika mengajar mata kuliah Etika Bisnis ini. Gaya mengajar yang sama sekali berbeda bila dibandingkan dengan gaya mengajar beliau pada mata kuliah Manajemen Keuangan I yang kami tempuh satu semester yang lalu.
Pada kesempatan kali ini (tadi pagi) Ibu dosen kita ini memberi kesempatan pada kami untuk berdebat tentang permasalahan klasik. Permasalahan membosankan menurut beliau. Dan tidak ada ujung pangkalnya menurut saya. Kesimpulannya sebenarnya gampang, tapi karena ada ketentuan bahwa kami harus memihak kepada dua kutub paham yang berbeda. Dan itu harus murni. Tidak boleh setengah-setengah.
Jadi skenarionya begini. Untuk Bab 2 matakuliah Etika Bisnis ini bahasan utamanya adalah tentang liberalisme dan sosialisme. Untuk menguji kemampuan kami, pembelajaran disetting layaknya sebuah drama
. Ada sebuah negara yang masih membingungkan antara memilih liberalis atau sosialis. Di negara tersebut, parlemennya terbagi menjadi dua kubu, yang pertama liberalis dan yang kedua tentunya adalah sosialis. Ibu Satya membagi kelas menjadi 2 kelompok. Lalu Ibu memilih seorang secara acak untuk menjadi seorang dari kami untuk menjadi presiden sekaligus moderator, yang nanti pada akhir diskusi harus memutuskan akan dibawa negara tersebut. Liberal atau Sosial.
Aturan mainnya, semua anggota parlemen harus meyakinkan Bapak presiden supaya memilih liberalis atau sosialis. Mereka harus memaparkan tentang kelebihan yang dimiliki oleh sistemnya.
Dengan berjalannya waktu masing-masing kubu mempertahankan pendapat bahwa kubunya yang terbaik dan layak diterapkan di negara ini. Antara kedua kubu tersebut terjadi debat yang sedemikian serunya. Saling serang pendapat dan adu argumen yang alot terus terjadi sampai Bapak Presiden menghentikan rapat karena waktu yang sudah habis.
Kesimpulan dari debat ini adalah bahwa setiap sistem, entah itu liberalis dengan sosialis, mempunyai kelemahan dan terbukti tidak cocok untuk menghadapi pekembangan dan perubahan zaman yang semakin cepat ini. Sehingga sistem baru yang lebih fleksibel dan mempunyai tujuan dan efektivitas dengan efek samping yang minimal yang harus kita pilih.
Pelajaran yang dapat kita ambil adalah bagaimana kita belajar mempertahankan pendapat, mendukung kawan, mempengaruhi dan menjatuhkan opini lawan. Selain itu debat ini akan lebih baik lagi jika masing-masing kubu didasari oleh pengetahuan akan hal yang diperdebatkannya dengan baik dan diatur oleh peraturan yang tegas dan jelas. Dalam debat ini persatuan dan perdamaian dijunjung tinggi. Meskipun berbeda pendapat dan pahamnya, tapi persaudaraan tetap saling terjaga.
Some text add by Willyan Rahmadi
Filed under: Activities, Article, Info, News, Potential Talent | Tagged: debate








