
JAKARTA. Para pengamat para valuta asing (valas) yakin keperkasaan rupiah masih akan berlanjut. Asal Bank Indonesia (BI) tak menahan laju rupiah, rupiah berpeluang menguat dari kisaran Rp 9.400 per dolar Amerika Serikat (AS) saat ini menuju Rp 9.000 per dolar AS di akhir tahun. “Bahkan, level optimistisnya ada di kisaran Rp 8.950 per dolar AS,” kata Andri Zakarias Siregar, Analis PT Harumdana Berjangka, kemarin (6/10).
Tren pelemahan dolar AS terhadap hampir semua mata uang dunia menjadi penopang penguatan rupiah kali ini. Tanda-tanda pemulihan ekonomi global telah memicu carry trade dolar AS. Investor meminjam dolar AS yang berbunga rendah dan menginvestasikan lagi ke tempat lain yang lebih menguntungkan.
“Pernyataan negara-negara Arab, China, dan Jepang yang berencana mengganti mata uang dolar AS dalam transaksi perdagangan minyak membuat dolar AS semakin melemah,” imbuh Andri.
Prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang relatif lebih tinggi ketimbang negara lain membuat instrumen investasi di Indonesia memikat investor asing. Ditambah lagi, cadangan devisa Indonesia menguat menjadi US$ 62,3 miliar. Akibatnya, “Aliran dana asing masuk ke pasar modal kita dan membuat rupiah kian menguat,” kata Nico Omer Jonckheere, Vice President PT Valbury Asia Futures.
Aliran dana asing
Per 2 Oktober, data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang, Departemen Keuangan, memperlihatkan, dana asing di Surat Utang Negara (SUN) mencapai Rp 94,86 triliun. Ini merupakan angka kepemilikan asing tertinggi sepanjang tahun ini.
Adapun di pasar saham, Bloomberg mencatat, dana asing yang masuk (net buy) kemarin mencapai US$ 27,2 juta. Dus, sejak awal tahun, dana panas yang masuk ke pasar saham kita telah mencapai US$ 1,04 miliar atau sekitar Rp 9,83 triliun.
Nasib dolar AS di pasar uang kertas (bank notes) di money changer atau gerai penukaran uang juga tak jauh berbeda. Nilainya terus terpuruk. “Saat ini lebih banyak orang yang menjual dolarnya karena mungkin takut nilainya semakin turun,” kata Budi, Marketing Manager money changer Tri Tunggal, di Blok M Plaza. Ia menambahkan, gerainya kemarin melayani 50 sampai 80 transaksi.
“Di tempat kami, yang beli dolar AS sekitar 60% dari total transaksi,” imbuh Mulyadi dari RMC Money Changer di Kebayoran Lama.
Umumnya, gerai-gerai penukar valuta itu menawarkan kurs dolar AS yang cukup murah. Sekitar pukul 16.00 WIB kemarin, Tri Tunggal menawarkan kurs jual Rp 9.465 per dolar AS dan kurs beli Rp 9.440 per dolar AS. Adapun RMC mematok kurs jual Rp 9.600 per dolar AS dan kurs beli Rp 9.400 per dolar AS. “Sebab, nanti malam rupiah mungkin bisa menguat ke Rp 9.300 per dolar,” ramal Mulyadi.
Namun, bank-bank masih memasang harga sedikit lebih tinggi. Misalnya, kemarin, Bank Mutiara masih memasang kurs jual dolar AS sebesar Rp 9.500 per dolar AS. Bank BNI dan BCA juga memasang kurs jual di angka yang sama. Sedangkan HSBC malah masih menetapkan kurs jual dolar AS sebesar Rp 9.900 per dolar AS.
Mungkin saja, bank-bank tidak mau rugi karena sebelumnya mereka berbelanja dolar AS di harga tinggi. n
kd, ir, her
Herlina KD, Irma Yani, Herry Prasetyo KONTAN






