BI menilai, tingkat BI Rate sebesar 6,5% tersebut masih konsisten dengan sasaran inflasi tahun 2010 sebesar 5%-1%. “Arah kebijakan moneter saat ini juga dipandang masih kondusif bagi proses pemulihan perekonomian dan berlangsungnya intermediasi perbankan,” tulis BI melalui situsnya.
JAKARTA. Suku bunga acuan atau BI Rate sepertinya masih enggan menggeliat di Kebon Sirih. Sesuai dengan yang diprediksikan oleh ekonom, Bank Indonesia (BI) tidak mengubah besaran suku bunga acuan. Bank sentral memutuskan untuk menahan suku bunga di level yang sama, yaitu 6,5%; Rabu (4/11).
BI menilai, tingkat BI Rate sebesar 6,5% tersebut masih konsisten dengan sasaran inflasi tahun 2010 sebesar 5%-1%. “Arah kebijakan moneter saat ini juga dipandang masih kondusif bagi proses pemulihan perekonomian dan berlangsungnya intermediasi perbankan,” tulis BI melalui situsnya.
BI telah memangkas suku bunga patokannya total 300 basis poin dari bulan Desember 2008 hingga Agustus 2009. Bulan lalu (5/10), BI juga tidak mengubah suku bunga acuannya.
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia memandang bahwa perekonomian Indonesia sampai dengan bulan Oktober 2009 masih terus menunjukkan kinerja yang membaik. Di sisi eksternal, kinerja ekspor Indonesia diperkirakan membaik didorong oleh menguatnya pemulihan pertumbuhan ekonomi global dan naiknya harga-harga komoditas dunia.
Di sisi domestik, kinerja konsumsi swasta tetap menguat sejalan dengan rendahnya inflasi dan terjaganya keyakinan konsumen terhadap prospek perekonomian ke depan. Dengan perkembangan ini, perekonomian Indonesia dalam triwulan IV-2009 diperkirakan tumbuh lebih tinggi dari triwulan sebelumnya.
Langkah BI untuk tidak mengubah BI Rate ini juga didorong oleh tingkat inflasi di bulan Oktober. Inflasi pada Oktober 2009 mencatat penurunan dan lebih rendah dibanding dengan pola historisnya. Hal ini didukung oleh menguatnya nilai tukar rupiah, dan menurunnya ekspektasi masyarakat akan inflasi ke depan seperti tercermin dari terus menurunnya inflasi inti.
Menurut Kepala Badan Pusat Statistik Rusman Hermawan laju inflasi di bulan Oktober dipicu oleh kenaikan harga bahan pokok seperti cabe merah dan cabe rawit. Selain itu, juga disebabkan lantaran tarif angkutan baik udara, darat, dan laut kembali normal. Secara umum hingga Oktober, inflasi di tahun ini telah mencapai 2,48%. Adapun laju year on year mencapai 2,57%.
Bulan lalu, BI memprediksikan laju inflasi akan mennggelinding antara 4-6% tahun depan. Pemerintah menghitung perekonomian Indonesia akan membiak 5,5% tahun depan dari tahun ini yang diprediksikan 4,3%. Kabinet Indonesia Bersatu jilid II berniat untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi sebesar 7% pada tahun 2014.
Sejumlah ekonom menilai, harga-harga konsumen kemungkinan mulai menanjak lebih cepat pada bulan-bulan depan. Terang saja, hal ini bakal mendesak BI untuk meningkatkan suku bunga acuannya di kuartal satu tahun depan.
Suku bunga yang tak berubah ini sesuai dengan harapan Direktur Financorpindo Nusa Edwin Sinaga. Pasalnya, jika suku bunga acuan terkerek mumbul, bakal mendorong dana asing keluar dari bursa, dan semakin memurukkan IHSG.
Bulan ini, sejumlah bank sentral di Emerging Markets telah mengubah suku bunganya. Diantaranya, Bank Sentral Australia menaikakn suku bunga pada hari Selasa (3/11) kemarin ke level 3,5%. Sementara itu, suku bunga Bank Sentral India besarnya 3,25%, Bank Sentral Jepang mematok suku bunganya 0,1%, dan suku bunga Bank Sentral Singapura 0,25%.
Bulan lalu, suku bunga yang dipatok Bank Sentral Korea Selatan 2,0% dan Bank Sentral Sri Lanka 8,0%.
Femi Adi Soempeno / KONTAN
Filed under: Article, News | Tagged: BI rate, moneter, suku bunga






